Senin, 14 Mei 2012

DS FKN HARAHAP

Ds FKN Harahap Lahir 5 maret 1917 di Depok (Bogor). Belajar main catur di Jakarta waktu berusia 8 tahun. Tahun 1930 beliau berangkat ke Belanda untuk belajar disana. Januari 1933 dia menang simultan lawan Prof. Dr. Max Euwe yang kemudian menjadi juara dunia (1935-1937). Diantara 30 papan Dr. Euwe kalah satu partai saja.
Antara 1933-1937 beliau masih main simultan lawan Dr. Alekhine (waktu masih juara dunia), Mrs. Vera Menchik (juara dunia wanita waktu itu), Andre Lilieanthal (juara Hongaria waktu itu) dan Rudolf Spielmann (juara Austria waktu itu). Lawan Mrs Menchik dan Spielmann ia mencapai draw.


Sesudah 1947 kembali ke Indonesia. Aktif main di Malang dan Yogya. Papan pertama PC " Kadio", juara antar klub di Yogya. Sesudah 1950 pindah ke Jakarta. Sementara non-aktif di bidang catur tahun 1955 menjadi Ketua Umum Percasi (hingga 1965, pindah ke Bandung). Main lagi dalam PC "Kuda Putih", juara antar klub di Jakarta.

Tahun 1964 masih memimpin rombongan catur ke Philipina. Antara 1961 - 1963 sempat menjadi pemimpin redaksi majalah Catur dan Bridge, satu-satunya mejalah catur yang sesudah Perang Dunia II terbit teratur dalam oplaag cukup besar. Selain mengenal catur dia juga menulis tentang sepak bola, sastra, agama, politik, hukum, sejarah dan lain-lain. semasa hidupnya Ds FKN Harahap aktif menulis di sejumlah surat kabar dan majalah-majalah Indonesia, antara lain: Sinar Harapan, Kompas, Merdeka, Suara Karya, Mutiara, Sinar Pagi, Tempo, Pikiran Rakyat, dan lain-lain.



PRASANGKA

Dalam suatu kereta ekonomi non-AC yg lumayan panas, Seorang eksekutif muda, dengan jas elegan berdiri di disana. Sesak2an dengan penumpang lain.
Sesaat kemudian, ia membuka tablet Androidnya. Lebih besar tentu dibanding smartphone umumnya.
Ia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat tentang dana untuk membantu para korban kebanjiran.
Semua penumpang menoleh padanya atau meliriknya. Apa batin mereka?
Seorang nenek2 membatin, 'Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik Ekonomi, pamer2an.'
Seorang emak2 membatin, 'Mudah2an suami saya ga senorak dia. Norak di kelas Ekonomi bukan hal terpuji.'
Seorang gadis ABG membatin, 'Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik AC kalau mau pamer begituan?'
Seorang pengusaha membatin, 'Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. andai dia merasakan jerih pahit kehidupan; barang tentu tidak akan pamer barang itu di kelas Ekonomi. Kenapa ga naik AC sih?'
Seorang pemuka agama melirik, 'Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu, pamer!'
Seorang pelajar SMA membatin, 'Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC.. ill feel gue.'
Seorang tunawisma membatin, 'Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil.'
Si eksekutif menyimpan kembali tabletnya di tas. Ia membatin, Puji Tuhan, akhirnya para donatur bersedia membantu. Puji Tuhan, ini kabar baik sekali. Lalu, ia sempatkan melihat kantong bajunya. Ada secarik tiket kereta ekonomi.
Ia membatin 'Tadi sempat tukar karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan manfaat.:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar